engineering geology
engineering geology
engineering geology

IASnet Journal
Senin, 30 Maret 2009
Balajar dari Situ Gintung
Pikiran Rakyat - Oleh Imam A. Sadisun

SITU atau dalam istilah yang lebih umum juga dikenal sebagai danau berukuran relatif kecil, dapat terbentuk secara alamiah maupun buatan. Situ-situ ini mendapatkan pasokan air baik dari curah hujan, mata air, atau bahkan sungai-sungai yang terdapat di sekitarnya. Beberapa situ memiliki saluran keluar (outlet) yang terkadang juga dapat terbentuk secara alamiah atau merupakan konstruksi buatan, yaitu dengan membangun bendungan kecil atau tanggul.

Situ Gintung di wilayah Cirendeu, Tangerang, Banten, pada mulanya merupakan situ yang terbentuk secara alamiah. Tanggul pada situ ini dibangun sejak zaman Pemerintahan kolonial Hindia-Belanda, yaitu pada 1933 (Detik.com, 27/3). Berdasarkan Peta Geologi Lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu yang dibuat Turkandi dkk. (1992), Situ Gintung berada pada satuan batuan endapan volkanik... baca selengkapnya di sini atau di sini atau di sini atau di sini dan di sini


Selasa, 31 Maret 2009
Jebolnya Situ Gintung Disebabkan Erosi Bawah
Okezone.Com & KabarLampung.Com

JAKARTA - Penyebab jebolnya tanggul Situ Gintung pada Jumat dini hari hingga kini masih menyimpan misteri. Ketua Divisi Geologi Rekayasa-Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Imam A. Sadisun menilai, jebolnya tanggul tersebut disebabkan erosi bawah permukaan di bagian hilir.

"Berdasarkan Peta Geologi Lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu yang dibuat Turkadi dkk (1992), Situ Gintung berada pada satuan batuan endapan alluvial volkanik kuarter (Qav). Tanah yang umumnya kohesif hasil sebagai dari pelapukan endapan alluvial volkanik, cenderung mudah mengalami proses ini," kata Imam kepada okezone di Jakarta, Selasa (31/3/2009).

Dia menjelaskan, adanya reruntuhan tanggul akibat erosi ini diawali dengan retaknya lereng tanggul di bagian hilir, yang disusul dengan reruntuhan keseluruhan tanggul... baca selengkapnya di sini atau di sini dan di sini


Selasa, 31 Maret 2009
Jebolnya Tanggul Situ Gintung Seharusnya Tak Terjadi
Okezone.Com

JAKARTA - Jebolnya tanggul Situ Gintung pada Jumat dini hari seharusnya tidak terjadi, jika pemerintah daerah maupun provinsi dapat melakukan evaluasi dan perhatian yang cukup.

"Dengan umur yang sudah sangat tua, sudah selayaknya Situ Gintung mendapat perhatian yang cukup. Bukan hanya sebatas faktor kapasitas dan kualitas air yang mengisi Situ tersebut, tetapi juga menyangkut kestabilan badan tanggulnya," kata Ketua Divisi Geologi Rekayasa-Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Imam A. Sadisun kepada okezone di Jakarta, Selasa (31/3/2009).

Dia menambahkan, potensi keruntuhan badan tanggul seharusnya dapat diidentifikasi secara dini. Selain melakukan evaluasi terhadap tingkat keamanan tanggul, metode lain yaitu dengan melakukan pemantauan atau monitoring... baca selengkapnya di sini atau di sini


Selasa, 31 Maret 2009
Misteri Jebolnya Tanggul Situ Gintung
Suara Media

JAKARTA (SuaraMedia) - Penyebab jebolnya tanggul Situ Gintung pada Jumat dini hari hingga kini masih menyimpan misteri. Ketua Divisi Geologi Rekayasa-Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Imam A. Sadisun menilai, jebolnya tanggul tersebut disebabkan erosi bawah permukaan di bagian hilir.

"Berdasarkan Peta Geologi Lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu yang dibuat Turkadi dkk (1992), Situ Gintung berada pada satuan batuan endapan alluvial volkanik kuarter (Qav). Tanah yang umumnya kohesif hasil sebagai dari pelapukan endapan alluvial volkanik, cenderung mudah mengalami proses ini," kata Media Media di Jakarta, Selasa (31/3/2009).

Dia menjelaskan, adanya reruntuhan tanggul akibat erosi ini diawali dengan retaknya lereng tanggul di bagian hilir, yang disusul dengan reruntuhan keseluruhan tanggul... baca selengkapnya


Minggu, 5 April 2009
Sebagian Besar Situ Dikelilingi Perumahan
Pikiran Rakyat

Belajar dari Situ Gintung. Begitu Dr. Eng. Imam Achmad Sadisun, M.T. memberi judul artikelnya yang dimuat di Harian Umum Pikiran Rakyat (30/3). Lebih dalam, anggota Kelompok Keilmuan Geologi Terapan Fakultas Ilmu Teknologi dan Kebumian (FITB) Institut Teknologi Bandung (ITB) itu pun mengutarakan analisisnya atas jebolnya tanggul Situ Gintung kepada wartawan "PR".

Menurut dia, penyebab jebolnya tanggul Situ Gintung di Kelurahan Cirendeu, Kecamatan Ciputat, Kota Tangerang, Banten, yang menelan lebih dari seratus korban itu, merujuk pada kelalaian. Garis besarnya, musibah Situ Gintung terjadi karena ketidakkonsistenan atas regulasi rencana tata ruang dan wilayah serta lemahnya monitoring.

Imam lalu menerangkan tiga penyebab jebolnya tanggul situ yang dibangun pemerintah Hindia-Belanda pada 1933 itu. Pertama, faktor alam. Pergantian musim yang tidak sesuai dengan siklus alam hingga tidak menentunya curah hujan, turut andil dalam rusaknya situ atau tanggul tersebut... baca selengkapnya atau di sini


Selasa, 7 April 2009
Situ Gintung, Pemerintah Paling Bertanggung Jawab
Okezone.Com

JAKARTA - Musibah jebolnya tanggul Situ Gintung pada Jumat 28 Maret lalu, mengakibatkan 100 orang meninggal dunia, ratusan orang hilang, puluhan orang lainnya terluka, dan ribuan kepala keluarga kehilangan tempat tinggal.

Ketua Divisi Geologi Rekayasa-Ikatan Ahli Geologi Indonesia, Imam A. Sadisun kepada okezone beberapa waktu lalu mengatakan, jebolnya tanggul tersebut disebabkan erosi bawah permukaan di bagian hilir. Tanda-tanda jebolnya tanggul Situ Gintung dapat dilihat dengan kasat mata. Salah satunya, dengan melihat munculnya mata air liar di sekitar tanggul tersebut. Dia menjelaskan, berdasarkan Peta Geologi Lembar Jakarta dan Kepulauan Seribu yang dibuat Turkadi dkk (1992), Situ Gintung berada pada satuan batuan endapan alluvial volkanik kuarter (Qav)... baca selengkapnya


Selasa, 21 April 2009
Diskusi Terbatas Runtuhnya Tanggul Situ Gintung
Badan Geologi

Badan Geologi, Departemen Energi dan Sumber Daya Mineral bekerja sama dengan Ikatan Ahli Geologi Indonesia pada tanggal 7 April 2009 bertempat di Auditorium Geologi, Jl. Diponegoro No. 57, Bandung, mengadakan diskusi terbatas dengan mengemukakan tema "Runtuhnya Tanggul Situ Gintung".

Hadir pada acara tersebut lima orang pembicara yaitu: Adisuryo Abdilah dari Balai Bendungan-PU, yang menjelaskan hasil kajian awal geologi teknik terhadap keruntuhan tanggul Situ Gintung; Aldrin Tohari dari Geoteknologi-LIPI, yang menyampaikan data dan informasi lapangan setelah keruntuhan tanggul Situ Gintung, serta menjelaskan mekanisme runtuhnya tanggul tersebut; Alwin Darmawan dari Pusat Lingkungan Geologi-Badan Geologi, mengulas aspek tata ruang atas kejadian bencana Situ Gintung; Herry Purnomo dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi-Badan Geologi, memaparkan hasil penyelidikan dan evaluasi kejadian bencana Situ Gintung; dan Imam A. Sadisun dari Teknik Geologi FITB-ITB, menjelaskan berbagai dugaan penyebab runtuhnya tanggul Situ Gintung... baca selengkapnya


Selasa, 8 September 2009
Penelitian Retakan Kawah Harus Gunakan Geo Radar
Pikiran Rakyat

TASIKMALAYA, (PR).- Tim Mitigasi Bencana Geologi Institut Teknologi Bandung (ITB) menyarankan agar Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi Bandung, untuk melakukan penelitian dengan menggunakan Geo Radar pada bibir kawah Gunung Galunggung di Kec. Sukaratu, Kab Tasikmalaya.

Bibir kawah gunung dilaporkan mengalami retak memanjang sepanjang 300 meter akibat gempa. "Cara itu, untuk menghasilkan penelitian lebih akurat, soal keretakan bibir kawah tersebut," kata Dr. Imam A. Sadisun, ahli geologi ITB yang ikut dalam penelitian ke bibir kawah Gunung Galunggung, kepada "PR", Sabtu (5/9) malam.

Terkait penelitian tersebut, ia menjelaskan, dugaan sementara, keretakan bibir kawah tidak dalam, namun harus dilakukan penelitian lebih lanjut untuk memberikan kepastiannya ... baca selengkapnya


Senin, 7 September 2009
Retakan Kawah Perlu Diteliti
Jabar Ekspres

TASIKMALAYA – Ketua Program Studi Teknik Geologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Tenologi Bandung (ITB), Imam A Sadisun Dr Eng menyatakan, guna memastikan kedalaman retakan di bibir kawah Galunggung diperlukan penelitian lebih lanjut. Yakni harus menggunakan alat georadar. Karena retakan yang muncul pada Rabu (2/9) akibat gempa 7,3 sekala richter, tidak terlihat akibat tertutup pasir.

“Dengan georadar, sanggup memastikan kondisi retakan tanah hingga ke dalam tanah secara lebih detil. Retakan tanah tidak membahayakan. Material relatif stabil, asal jangan di goyang gempa lagi,” ungkap Imam, dosen Program Studi Teknik Geologi. Imam mengaku sudah menginformasikan temuan ini, ke Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi.

Imam menyatakan, retakan terdapat di atas jenis batuan lapilli. Yakni jenis batuan yang lebih kasar dari pasir dan bersifat lebih stabil. Sedangkan jenis retakan di kawah Galunggung, sambung dia, termasuk jenis retakan kasar dan tidak berbahaya. “Retakan yang berbahaya adalah yang lurus dan dalam. Namun potensi longsor (di kawah Galunggung, red) tetap ada, hanya saja relatif kecil,” ungkap Imam ... baca selengkapnya


Minggu, 6 September 2009
Gunung Galunggung Retak, Peneliti Sibuk
KLIKP21.COM

TASIKMALAYA – Guna memastikan kedalaman retakan di bibir kawah galunggung diperlukan penelitian lebih lanjut menggunakan alat Georadar. Pasalnya retakan yang muncul pada Rabu (2/9/2009) akibat gempa 7,3 sekala richter, sudah tidak lagi terlihat akibat tertutup pasir, Minggu (6/9/2009).

Hal itu diungkapkan Imam A Sadisun Dr.Eng, ketua program studi teknik Geologi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian Institut Tenologi Bandung, sesaat setelah meneliti retakan di bibir kawah gunung Galunggung. Penelitian dilakukan bersama-sama dengan perwakilan Dinas Pertambangan dan Energi Kabupaten Tasikmalaya.

Menurut Imam, dengan menggunakan georadar, sanggup memastikan kondisi retakan tanah hingga kedalam tanah secara lebih detail. Imam sudah meneruskan informasi tersebut kepada Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi, yang memiliki alat georadar. “Retakan tanah tidak membahayakan. Material relatif stabil, asal jangan di goyang gempa lagi,” ujar Imam ... baca selengkapnya


Selasa, 4 November 2008
SBY memberikan pembekalan kepada peserta Gladian Panji Geografi
Berita Surta

Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono, Sabtu, 1 November 2008 memberikan pembekalan dalam acara penutupan Gladian Panji Geografi di Situ Lembang, Bandung Barat, Jawa Barat. Dalam pembekalannya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mengatakan, Indonesia yang secara geografi berada pada pertemuan 3 lempeng utama yaitu lempeng Eurasia, Australia dan Pasifik yang menjadikan wilayah kita rawan bencana alam yang disebut dengan istilah living on the edge. Selain itu , wilayah Indonesia juga rawan akan bencana gunung api yang memanjang mulai dari Aceh hingga Sulawesi dan dari Nusa Tenggara hingga Papua yang dikenal dengan istilah ring of fire. Disamping rawan akan bencana, kita juga dianugerahi kekayaan alam yang sangat besar baik di dasar laut, dalam tanah serta permukaan tanah. Kemudian lanjut Presiden dalam membangun negara ini kita juga harus memiliki modal kepribadian yang kokoh dan berkarakter kuat dalam menghadapi tantangan masa depan. Terkait dengan pembangunan kepribadian yang kokoh dan berkarakter di perlukan pelatihan-pelatihan.

Pelatihan bagi relawan tangggap bencana digelar sejak tanggal 28 Oktober dan ditutup pada Hari Sabtu, 1 November 2008 yang diikuti perwakilan organisasi pencinta Alam, SAR, dan lainnya. Kontribusi BAKOSURTANAL dalam pelatihan ini memberikan materi mengenai Konsep Dasar Pemetaan yang diberikan oleh Kepala Bidang Pemetaan Dasar Kedirgantaraan, Edwin Hendrayana, Panduan membaca peta dengan menggunakan peta Rupabumi Indonesia, penggunaan GPS oleh Joni Efendi dan Yofri Furqani Hakim. Selain teori di kelas juga diberikan praktek GPS di lapangan yang diberikan oleh Team dari BAKOSURTANAL. Materi lainnya Mengenai Bumi Indonesia (T. Bachtiar dari Masyarakat Geografi Indonesia), Pandangan umum tentang Bencana (T. Wahyu dari Wanadri), Pemahaman Karakteristik Bencana (Imam Sadisun dari Mitigasi Bencana ITB).... baca selengkapnya


Sabtu, 1 Maret 2008
Honorary Engineering Geologist
ITB Bandung

BANDUNG - Setelah menunggu sekian lamanya, IAGI akhirnya meluncurkan kembali beberapa sertifikat ahli, yang kali ini diberikan kepada para anggota Dewan Sertifikasi IAGI. Pemberian sertifikat ini dilangsungkan pada acara gala dinner di Campus Center ITB, 1 Maret 2008, sebagai bagaian dari rangkaian acara Workshop Nasional Migas oleh BP MIgas - LAPI ITB - IAGI. Untuk proses sertifikasi berikutnya, IAGI berharap kepada para anggota Dewan Sertifikasinya untuk dapat lebih produktif lagi menghasilkan ahli-ahli geologi yang bersertifikasi.

Dalam kesempatan ini, DR. Eng. Imam Sadisun adalah salah seorang yang mendapatkan sertifikat dari IAGI, yaitu sebagai Ahli Kehormatan bidang Geologi Teknik (Honorary Engineering Geologist).


Jumat, 4 Januari 2008
Antisipasi Bahaya Longsor
STV Bandung

BANDUNG - Kejadian tanah longsor yang menimpa sebagian wilayah tanah air akhir-akhir ini, menjadi inspirasi bagi STV, salah satu stasiun TV di Bandung, untuk mengangkat topik "Antisipasi Bahaya Longsor" dalam suatu acara dialog khusus pada 4 Januari 2007 yang lalu. Dialog ini dikemas dalam acara berita sore "Daily Report", yang disiarkan antara pukul 16:30 - 17:30 WIB setiap harinya. Hadir dalam dialog ini adalah DR. Eng. Imam Sadisun, seorang peneliti dari Kelompok Keahlian Geologi Terapan ITB.


Dalam kesempatan tersebut telah diulas beberapa hal yang terkait dengan topik tersebut di atas, antara lain :
  • Faktor-faktor penyebab tanah longsor, yang bisa dibagi lagi dalam faktor kendali (pengontrol) dan faktor pemicu
  • Aktivitas-aktivitas manusia yang dapat memicu terjadinya tanah longsor
  • Tipe atau jenis tanah longsor yang banyak terjadi di Tanah Air
  • Potensi dan zonasi tanah longsor di Jawa Barat
  • Tanda-tanda sebelum (precursor) terjadinya tanah longsor
  • Usaha-usaha untuk mitigasi bencana tanah longsor, baik mitigasi struktural maupun non-struktural
Dari acara dialog ini, masyarakat, khususnya Jawa Barat, diharapkan dapat lebih mengenal dan paham dengan potensi bencana tanah longsor di sekitarnya. Lebih dari itu, masyarakat juga diharapkan dapat melakukan usaha-usaha antisipati terhadap potensi bencana tersebut.


Senin, 1 Oktober 2007
Ternyata Gorontalo Potensial Tsunami
Gorontalo Post

GORONTALO - Posisi Gorontalo yang disebut-sebut sebagai salah satu daerah yang berpotensi terkena gempa tsunami, ternyata bukan sekedar omongan belaka, hasil penelitian Ilmuan LIPI dan ITB, Gorontalo memang berpotensi mengalami bencana dashyat tersebut.

Hal ini diungkapkan Wagub Gusnar Ismail yang baru saja mewakili Pemprov Gorontalo melakukan pertemuan dengan Badan Metereologi dan Geofisika (BMG) pusat terkait rencana restrukturisasi atau penataan kembali penanganan bencana secara nasional, khususnya ke tingkat daerah.

Saat dikonfirmasi Gusnar mengatakan bahwa Gorontalo, menjadi daerah provinsi pertama yang diundang untuk membicarakan masalah penanganan bencana ini. "Pemantauan langsung Presiden SBY, menemukan adanya kekurangan dalam penanganan bencana, mulai dari tak adanya perencanaan penanganan hingga menejemen penanganan bencana yang baik, itu yang menjadi dasar harus dilakukannya perbaikan ini," ungkap Wagub seraya menambahkan bahwa dengan pertimbangan itu, Presiden meminta agar para pimpinan daerah diundang untuk membicarakan kembali penanganan bencana ini, dan Gorontalo menjadi daerah pertama yang diundang.

Dalam pertemuan tersebut, Wagub yang juga didampingi Wakil Ketua Deprov Sun Biki dan salah seorang Aleg Marten Taha, melakukan pembicaraan dengan Kepala BMG Pusat, Ir. Sri Woro Harijono .MSc serta para peneliti dan petinggi LIPI dan ITB, seperti Deputi Bidang Ilmu Kebumian LIPI DR. Ir Hery Harjono, Peneliti Bidang Dinamika Bumi Bencana Geologi LIPI, DR Ir Hariyadi Permana, Peneliti Senior Mitigasi Bencana ITB Bandung, DR. Eng. Imam Sadisun.... baca selengkapnya


Sabtu, 11 Agustus 2007 dan Senin, 13 Agustus 2007
Ketidaksiapan Hadapi Bencana
Tribun Timur dan Banjarmasin Post

MAYORITAS pemerintah daerah (pemda) di Indonesia belum siap menghadapi kerentanan berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, angin ribut, dan gunung meletus. Fakta di lapangan memperlihatkan bahwa kapasitas daerah masih rendah, sebagian besar instansi belum memasukkan unsur penanggulangan bencana ke dalam program kerjanya.

Imam Sadisun, peneliti dari Pusat Mitigasi Bencana, Institut Teknologi Bandung, seusai lokakarya Peranan Iptek dalam Penanggulangan Bencana di Jakarta, Kamis (9/8), mengatakan, ketidaksiapan juga terlihat pada peraturan daerah. Belum tampak program khusus penanggulangan bencana, lebih banyak bersifat tindak darurat. ..... baca selengkapnya (1) atau ..... baca selengkapnya (2)


Kamis, 9 Agustus 2007
Peneliti: Kebanyakan Pemda Belum Siap Tangani Bencana Alam
Republika Online

Jakarta-RoL-- Imam A. Sadisun, peneliti dari Pusat Mitigasi Bencana (PMB) Institut Teknologi Bandung (ITB), mengatakan mayoritas pemerintah daerah (Pemda) di Indonesia belum siap menghadapi kerentanan berbagai bencana alam seperti gempa bumi, tsunami, tanah longsor, banjir, angin ribut, dan gunung meletus.

"Dalam skala nilai kesiapan terendah 0 dan tertinggi 5, rata-rata Pemda cuma dapat angka 3 atau kurang," kata Imam usai berbicara dalam lokakarya "Peranan IPTEK dalam Penanggulangan Bencana di Indonesia", di Jakarta, Kamis.

Lebih lanjut ia menjelaskan, setiap daerah di Indonesia memiliki kerentanan terhadap berbagai bahaya alam, seperti gempa bumi, tsunami, kebakaran hutan, kekeringan, letusan gunung berapi, wabah penyakit, tanah longsor, angin ribut, dan banjir. ..... baca selengkapnya


Selasa, 25 April 2006
Peluncuran Jurnal Geoaplika KK Geologi Terapan
NEWS Portal ITB

Sabtu, 22 April 2006, Kelompok Keilmuan (KK) Geologi Terapan Fakultas Ilmu Kebumian dan Teknologi Mineral (FIKTM) ITB resmi meluncurkan Jurnal Geoaplika. Acara yang ditandai dengan peluncuran edisi pertama Jurnal Geoaplika ini diselenggarakan di cafe Hotel Sawunggaling ITB. Edisi pertama Jurnal Geoaplika ini berisi lima publikasi ilmiah. Selain sebagai sebuah media komunikasi antara para pakar di bidang kebumian, jurnal ini juga merupakan jurnal ilmiah berisi publikasi mengenai spesifik bidang geologi terapan. Jurnal ini dan redaksinya disahkan melalui Surat Keputusan Dekan FIKTM No. 431.I/K01.8/SK/LL/2006 tentang Jurnal Geoaplika serta Surat Keputusan Dekan FIKTM No. 432.I/K01.8/SK/LL/2006 tentang Pembina, Pengelola, dan Dewan Redaksi Jurnal Geoaplika.

Imam A. Sadisun, pemimpin redaksi jurnal Geoaplika mengungkapkan bahwa selain dua tujuan utama itu ..... baca selengkapnya


Februari 2006
Berisiko Tapi Bisa Diantisipasi
INTISARI

Bisik-bisik itu berkaitan dengan Seksi 2, di ruas Purwakarta - Plered, yang secara geologis berada di wilayah batuan sedimen. Mulai sekitar Km 83 yang masuk kawasan Purwakarta Selatan hingga sekitar 7 km berikutnya ke arah Bandung, badan jalan harus melintasi dua wilayah batuan lempung, yaitu Batuan Lempung Subang dan Batuan Lempung Jatiluhur. Sedangkan selebihnya hingga ke Padalarang, berada di tanah batuan vulkanik.

Mendirikan suatu struktur bangunan di atas batuan sedimen yang terbentuk pada zaman tersier ini memang bukan perkara mudah. Umur batuan muda, sekitar lima juta tahun, membuat sifat pergeserannya tinggi alias gampang longsor. Longsoran-longsoran kecil bahkan sudah terjadi jauh sebelum pembangunan dilakukan.

Masalah mulai timbul ketika batuan lempung yang dikupas kemudian terpapar udara atau air hujan. Kandungan mineral monmorilonit di dalam batuan akan mengembang. Apalagi kadar monmorilonit di dua wilayah itu tergolong tinggi, bahkan di atas 50%. Batuan Lempung Subang dan Batuan Lempung Purwakarta seperti dibangkitkan dari tidur panjangnya.

Sebenarnya, kondisi tadi bisa diantisipasi. Paling tidak, Dr. Imam Sadisun, geolog dari Institut Teknologi Bandung meyakinkan, antisipasi sang kontraktor (dalam hal ini PT Adhi Karya) terhadap ancaman longsor di Cipularang umumnya sudah baik. Ini sesuai dengan perencanaan awal proyek. ..... baca selengkapnya


Jumat, 2 Desember 2005
Bencana Justru Membuat Kebal, Warga Miskin tidak Mempunyai Pilihan
Pikiran Rakyat

PERISTIWA alam seperti longsor dan aliran deras dari sungai memang biasa. Bahkan, menurut staf pengajar bidang Geologi Teknik ITB, Dr. Eng. Imam A. Sadisun, setiap tanah atau lereng memang mengalami pemburukan sifat. Semakin lama bertambah jelek dan berpotensi untuk longsor. "Apalagi kalau lereng itu diganggu," katanya.

Gangguan itu, adalah aktivitas manusia yang menjadi faktor pemicu bencana. Misalnya membangun pondasi-pondasi yang berat ataupun kolam di atas lereng. ..... baca selengkapnya


Selasa, 2 Agustus 2005
Laporan Satgas ITB Peduli TPA Leuwigajah dan Sampah Bandung Raya
NEWS Portal ITB

Tanggal 21 Februari 2005 merupakan hari kelabu bagi para warga kampung Kampung Cilimus, Desa Batujajar Timur, Kecamatan Batujajar, Kabupaten Bandung, yang berada di sekitar TPA Leuwigajah. Puluhan ton sampah menggulung puluhan rumah hingga sejauh lebih dari satu kilometer. Setidaknya 143 jiwa menjadi korban, puluhan lainnya luka?luka, dan ratusan warga lainnya kehilangan tempat tinggal.

Hanya dalam waktu sehari setelah peristiwa longsor TPA Leuwigajah, melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat, ITB segera membentuk Satgas ITB Peduli TPA Leuwigajah dan Sampah Bandung Raya (selanjutnya disebut Satgas). Tim yang beranggotakan para ahli di bidang-bidang yang berkaitan dengan persampahan dan bencana ini bertugas menganalisis, mengkaji, dan melakukan usaha-usaha mitigasi terhadap bencana longsornya TPA Leuwigajah (selanjutnya disebut TPA), sekaligus mengatasi masalah persampahan di Bandung raya.

Para anggota Satgas, Dr. Eng. Imam A. Sadisun(ketua) ..... baca selengkapnya (1) dan baca selengkapnya (2)


Jumat, 11 Maret 2005
ITB Peduli TPA Leuwigajah dan Sampah Bandung Raya
NEWS Portal ITB

Sehari setelah musibah longsornya TPA Leuwigajah, 22 Februari 2005, ITB, melalui Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat (LPPM) langsung membentuk tim khusus yang bertugas menganalisis, mengkaji, dan melakukan usaha?usaha mitigasi terhadap bencana longsornya TPA serta juga mengatasi permasalahan sampah Bandung Raya.

Tim yang dinamai Satgas ITB Peduli TPA Leuwigajah dan Sampah Bandung Raya ini, beranggotakan staff pengajar ITB yang bidang kepakarannya berhubungan dengan bencana itu dan masalah sampah. Anggota Satgas peduli ini, Dr. Eng. Imam A. Sadisun (ketua) ..... baca selengkapnya


Kamis, 10 Maret 2005
Paradigma Baru Persampahan
Pikiran Rakyat - Cakrawala

"Jangan mengadakan hajatan saat ini." "Kenapa?" "Bagaimana membuang sampahnya? Kan sekarang warga Bandung kesulitan membuang sampah." Itulah kondisi di Kota Bandung dan sekitarnya saat ini. Tumpukan sampah di sejumlah tempat mulai menggunung, menyusul longsornya tempat pembuangan akhir sampah (TPAS) Leuwigajah dan kemudian dinyatakan tertutup sementara.

Repotnya, dalam hitungan kurang dari tujuh minggu, Kota Bandung akan menjadi tuan rumah hajatan besar bertaraf internasional, peringatan ulang tahun emas Konferensi Asia Afrika (KAA). Tepatnya 24 April mendatang.

Tak heran jika Wali Kota Bandung, Dada Rosada sampai meminta bantuan tim satuan tugas (satgas) ITB Peduli Leuwigajah dan Sampah Bandung Raya yang dipimpin Dr. Imam S. mempresentasikan manajemen pengelolaan sampah dan penanganan TPAS Leuwigajah, Selasa siang ..... baca selengkapnya


back to top




Copyright © IASnet 2004. All content is Creative Commons licensed,
unless otherwise noted. Contact us for any comments or suggestions.